Rabu, 14 Maret 2012

CERBUNG MAKIN KRITIS



Kritis : Salah satu bekas rumah warga Cerbung yang saat ini telah lenyap akibat akumulasi hantaman gelombang yang datang secara terus-menerus dan belum adanya upaya penanggulangan nyata dari kabupaten.
CERBUNG MAKIN KRITIS

Rembang - Abrasi di Dusun Cerbung, Desa Temperak Sarang yang sudah terjadi sejak Februari silam dan mengancam 21 KK saat ini semakin memasuki masa kritis. Ancaman gelombang tinggi bagi warga setempat ditengarahi semakin nyata dan sewaktu-waktu dikhawatirkan bisa mengakibatkan rumah-rumah yang terletak bersebelahan dengan bibir pantai hilang tidak berbekas.
Kondisi terkini berdasarkan pantauan lapangan Rabu (14/3), sedikitnya 20 rumah warga Cerbung yang terletak bersebelahan dengan bibir pantai kondisinya sudah sangat memprihatinkan dengan rata-rata kerusakan antara 30 sampai 80 %. Bahkan, rumah salah seorang warga bernama Samad (56), terpaksa dirobohkan dan tanah bekas bangunan tersebut kini sudah tinggal sebagian karena tergerus gelombang yang datang secara terus menerus. Dasyatnya gelombang juga bisa dilihat dari bekas gerusan yang saat ini hanya berjarak kurang lebih 3 meter dari jalan Dusun yang memisahkan deretan rumah warga sebelah utara dan selatan. Atas kondisi itu, semua pemilik rumah yang rentan terhantam gelombang susulan disarankan untuk mengungsi di tempat sanak keluarga atau beberapa tenda pengungsian yang rencananya akan disiapkan oleh berbagai pihak.
Menurut kepala Dusun Cerbung Muhadi (54), semakin parahnya dampak abrasi di dusunnya disebabkan oleh belum terlaksananya berbagai upaya penanggulangan, seperti batu pemecah gelombang (breakwater) karena berbagai alasan. Dirinya sangsi 20 rumah yang bersebelahan dengan bibir pantai akan mampu bertahan hingga satu minggu tanpa “breakwater” mengingat intensitas gelombang tinggi semakin sering.
“Kondisinya sudah semakin kritis dan membahayakan. Kebanyakan rumah mengalami kerusakan parah di bagian belakang dan ada beberapa yang memang sudah sangat tidak layak huni, termasuk rumah milik pak Samad yang saat ini sudah tidak berbekas. Saya tidak yakin rumah-rumah tersebut bisa bertahan satu minggu karena gelombang tinggi semakin sering datang dan pemecah gelombang juga belum ada,” katanya.
Muhadi menuturkan, dampak gelombang terhadap rumah warga dari hari ke hari semakin meluas dan membahayakan pemukiman warga. Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari kualitas dan kuantitas kerusakan yang terjadi semakin parah.
“Berdasarkan apa yang kami amati bersama warga, dampak gelombang semakin hari semakin parah dan benar-benar mengancam, bukan hanya rumah yang bersebelahan dengan pantai, bahkan semua yang ada di wilayah dusun Cerbung,” jelasnya.
Hal sama diungkapkan oleh salah seorang warga, Jasriyotun (50), pemilik rumah sebelah selatan jalan dusun. Sebenanya rumah miliknya belum mengalami ancaman serius dari hantaman gelombang. Namun, dirinya sudah merasa khawatir dan takut gelombang laut benar-benar meluas dan melampaui jalan dusun sehingga rumah yang ia tinggali juga akan terkena dampak gelombang. Apalagi sejuh ini menurutnya belum ada sama sekali realisasi penanggulangan yang bersifat permanen.
“Takut mas, meskipun rumah saya tidak bersebelahan langsung dengan pantai, tetapi kalau gelombang tidak segera diatasi tentu akan merembet sampai sini. Kalau tidak segera dilakukan upaya, bisa habis rumah kami,” tuturnya.
Fitri (55), warga lainnya juga menyuarakan hal serupa. Rumah miliknya yang bersandingan dengan pantai kini sudah tidak lagi layak ditinggali. Bagian belakang rumah ambruk hampir mencapai sebagian, serta pondasi bagian dapur terangkat. Kini, ia khawatir satu-satunya rumah yang sudah puluhan tahun ditinggali bersama keluarganya itu terancam lenyap karena hantaman gelombang tinggi belum ada indikasi mereda.
“Saya harus bagaimana lagi, bapak (suami) hanya sopir, ini saja belum saya kasih tahu karena dari beberapa hari yang lalu sedang pergi antar barang ke luar kota. Saya bingung mas harus bagaimana, sedangkan untuk penanganan pribadi tidak punya ongkos,” katanya sambil sesenggukan.
Sementara itu, Selasa malam sebelumnya, (13/3) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang sudah melihat langsung lokasi bencana untuk mengetahui dampak terkini abrasi yang melanda Dusun Cerbung. Keesokan harinya, BPBD kembali mendatangi lokasi bersama rombongan wakil bupati Rembang, Abdul Hafidz. Tampak dalam rombongan, Dandim 0720 Rembang Dedy Jusnar Hendrawan, Kepala dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Suranto, Kepala BPBD Suharso, Camat Sarang Akhsanudin, Danramil 14 Sarang Piter Kasi, perwakilan PMI cabang Rembang serta sejumlah pejabat teras lainnya.
Tujuan wakil bupati beserta rombongannya adalah untuk melihat langsung dampak nyata akibat hantaman gelombang serta berdialog dengan warga Dusun Cerbung sehingga upaya-upaya penanggulangan segera bisa dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan mekanisme yang berlaku, baik teknis maupun non teknis.
“Atas nama pemerintah kami sangat prihatin terhadap musibah ini. Segala upaya penanggulangan akan sesegera mungkin kami lakukan dengan tepat dengan mempertimbangkan berbagai mekanisme dan teknis yang berlaku. Semuanya butuh waktu, mudah-mudahan tidak lama lagi biar warga bisa kembali tenang dan tentram,” kata Abdul Hafidz, Wakil Bupati Rembang saat mengawali dialog dengan warga.
Dalam kesempatan itu juga, Palang Merah Indonesia (PMI) Rembang menyerahkan 16 paket bantuan yang berisi kebutuhan sehari-hari guna meringankan beban sementara waktu bagi warga yang terkena imbas abrasi. (Ilyas)
                                               

Jumat, 09 Maret 2012

SMK TANAMKAN LIFE SKILL DINI PADA ANAK


SMK TANAMKAN LIFE SKILL DINI PADA ANAK

Rembang - Sekolah model kejuruan atau lebih sering dikenal dengan sebutan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dianggap oleh sejumlah pihak mampu menanamkan serta mengajarkan life skill secara dini kepada anak. Hal ini seperti yang disampaikan oleh salah seorang praktisi pendidikan Rembang Wiyono, Sabtu (9/3).
Menurut Wiyono keberadaan sekolah model kejuruan sejauh ini terbukti ampuh memberikan kemampuan kepada siswa terhadap segala bidang yang dibutuhkan pada konteks kehidupan nyata. Ia percaya, keberadaannya akan sangat membantu dalam mengembangkan potensi serta daya kreasi yang sesungguhnya sudah dimiliki oleh setiap anak.
“Sejauh ini dalam pandangan saya keberadaan sekolah model kejuruan sangat ampuh membekali anak menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin global,” katanya.
Wiyono, yang juga menjabat sebagai kepala sekolah SMKN Sale ini mengungkapkan, dirinya sepakat langkah pemerintah yang mengusulkan agar kuantitas sekolah-sekolah model tersebut lebih diperbanyak sebagai salah satu langkah nyata membekali generasi muda dengan skill practic. Dengan hal itu, ia sangat yakin siswa yang belajar serius di sekolah model kejuruan tidak akan bingung ketika keluar sekolah, dan secara umum akan siap kerja.
“Anak-anak keluaran sekolah kejuruan yang belajar secara serius sudah pasti akan mendapatkan bekal kemampuan yang bisa digunakan untuk bekerja,” tuturnya.
Wiyono mencontohkan, SMKN Sale yang ia pimpin saat ini sudah mulai mengeksplorasi secara positif segala potensi yang dimiliki oleh anak sesuai dengan bidang yang diberikan oleh sekolah. salah satunya, kata dia, adalah beberapa hasil karya siswa berupa desaign, seperti PIN, Mug dan lainnya yang sudah mulai merambah pasar dan terbukti cukup diminati.
“Alhamdulilah sejauh ini hasil beberapa karya siswa kejuruan cukup menjanjikan dan membanggakan. Seperti di SMKN Sale yang dalam waktu dekat mendapatkan pesanan 1000 PIN dari salah satu penggiat pramuka di Sale. dan saya kira semua sekolah model kejuruan juga menghasilkan prestasi yang sama dengan model berbeda,” jelasnya panjang lebar. (Ilyas) 

BPBD DINILAI LAMBAN TANGANI BENCANA CERBUNG


BPBD DINILAI LAMBAN TANGANI BENCANA CERBUNG
Bupati diminta turun tangan langsung

Salah satu rumah milim warga yang hancur diterjang gelombang
Rembang - Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang dinilai lamban oleh sejumlah warga Cerbung, Temperak Kecamatan Sarang dalam merealisasikan penanggulangan bencana terkait dampak hantaman gelombang di wilayah tersebut. Pasalnya, sejak hantaman gelombang pertama pada awal Februari yang lalu, hingga saat ini belum ada realisasi penanggulangan yang dilakukan oleh Kabupaten melalui BPBD.
Berdasarkan informasi yang diterima koran ini dari kepala Dusun Cerbung, Muhadi, Kamis (8/3), saat ini opsi realisasi penangulangan bencana untuk Dusun Cerbung sudah hampir diputuskan di kabupaten dan tinggal pelaksanaan. Namun, Muhadi mengakui hingga saat ini belum ada realisasi penanggulangan yang dilakukan BPBD. Realisasi yang sudah ada, kata Muhadi, justru berasal dari Palang Merah Indonesia (PMI) Rembang yang memberikan paket bantuan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat, serta karung beserta pasir dari jajaran Koramil setempat beberapa waktu sebelumnya.
“Sejak hantaman gelombang pada awal Februari lalu memang belum ada upaya penanggulangan secara riil dari BPBD. Namun untuk bantuan semua warga yang rumahnya terkena imbas gelombang telah mendapatkan dari PMI berupa paket kebutuhan sehari-hari masyarakat,” terangnya.
Namun begitu Muhadi menyadari dan menghormati segala proses serta tahapan penanggulangan bencana yang sudah menjadi prosedur tetap birokrasi. Dirinya tetap yakin penanggulangan bencana Cerbung sudah pasti terealisasi dan hanya menunggu waktu.
“Secara kontekstual penaggulangan memang lambat. Namun, secara pribadi dan kelembagaan saya menghormati dan menghargai segala tahapan prosedur dalam realisasi penanggulangan bencana yang berlaku. Dan saya sangat berharap penanggulangan tersebut jangan sampai berlarut hanya karena birokrasi. Demi masyarakat, paling lambat bulan April setidaknya sudah direalisasikan,” katanya lagi.
Jika perlu, tambah Muhadi, apa yang terjadi pada Dusun Cerbung tidak perlu dibelit-belitkan oleh birokrasi karena kondisinya memang sangat mendesak demi keamanan serta kenyamanan warga. Bahkan, dirinya meminta Bupati untuk turun langsung ke lapangan melihat sejauh mana dampak hantaman gelombang yang menimpa warganya.
“Jika perlu Bupati turun tangan langsung,” cetusnya.
Hal sama juga disuarakan oleh salah seorang warga, Sulastri (50) yang juga menilai bahwa BPBD terkesan lamban dalam penanganan bencana Cerbung. Menurutnya tolak ukur lambatnya penanggulangan adalah hantaman gelombang susulan yang kembali menerjang sejumlah rumah milik warga dan mengakibatkan 6 rumah rusak parah dan satu lainnya terpaksa dirobohkan.
“Penanggulangan lamban mas,” katanya singkat. (Ilyas)

DIHANTAM GELOMBANG SUSULAN, 7 RUMAH RUSAK PARAH




DIHANTAM GELOMBANG SUSULAN, 7 RUMAH RUSAK PARAH 
Satu diantaranya terpaksa dirobohkan

     Rembang - Lagi, gelombang susulan menghantam sebagian rumah milik warga Dusun  Cerbung Desa Temperak Sarang, Selasa sore (6/3). Akibatnya sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah dan satu rumah lainnya terpaksa dirobohkan karena kondisinya membahayakan dan tidak aman lagi dijadikan tempat tinggal. Kondisi tersebut membuat warga setempat semakin merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan tempat tinggal yang sewaktu-waktu bisa mengancam.
Salah satu rumah warga yang roboh
     Menurut kepala Dusun Cerbung, Muhadi, gelombang susulan yang kembali melanda wilayahnya terjadi pada Selasa sore saat angin kencang tengah datang dan sebagian warga ada yang sedang tidak berada di rumah. Gelombang itu, kata Muhadi, total menghantam 7 rumah milik warga yang pada Kamis (2/2) sebelumnya juga sudah merasakan hantaman gelombang yang sama. Dari 7 rumah milik warga yang mengalami kerusakan, satu di antaranya terpaksa dirobohkan karena kondisinya sudah tidak layak lagi dijadikan tempat tinggal.
     “Total ada 7 rumah milik warga yang menjadi sasaran gelombang susulan, dan sebenarnya pada Februari kemarin rumah-rumah tersebut juga sudah terkena dampak gelombang bersama belasan rumah lainnya. Bahkan rumah milik pak Samad yang harus dirobohkan karena tingkat kerusakan di atas 50 %, bahaya jika dipaksa untuk ditempati,” jelas Muhadi.
     Dengan kondisi tersebut, Muhadi menghawatirkan dampak hantaman gelombang akan semakin parah dan meluas jika langkah-langkah penanggulangan tidak segera dilakukan. Pasalnya, berdasarkan yang ia amati bersama warga sejak gelombang parah pada Februari silam, ada bagian rumah warga yang sampai tergerus hingga 6 meter dan belum diupayakan penanggulangan, baik secara personal maupun swadaya karena berbagai keterbatasan, salah satunya persoalan dana.
     Sementara itu akibat kejadian tersebut setidaknya 3 KK warga Dusun Cerbung terpaksa mengungsi saat malam hari karena khawatir hal-hal lebih buruk akan terjadi. seperti yang dikatakan oleh Romlah, yang mengaku harus rela tidur di mushola setempat pada saat malam karena khawatir rumahnya akan menjadi sasaran gelombang lagi. Apalagi, menurut dia saat ini  bagian belakang rumahnya sudah tidak berbentuk lagi dan cukup rawan roboh.
     “Terpaksa mengungsi, orang kondisinya memang seperti ini,” katanya.
Hal sama juga menimpa warga lainnya, Samad, yang rumahnya dirobohkan paksa karena mengalami kerusakan sangat parah. Bersama istrinya ia terpaksa mengungsi dan tinggal di warung kopi sederhananya, pinggir jalan Pantura Semarang-Surabaya.
     “Hanya jika siang hari saya kesini membersihkan sisa-sisa barang yang masih bisa dimanfaatkan, kalau malam saya bersama istri tinggal di warung,” tuturnya. (Ilyas)
 

Senin, 05 Maret 2012

SEPAK BOLA DI LAPANGAN, BUKAN DI KANTOR PSSI


Moch. Ilyas al-Musthofa (Doc)
SEPAK BOLA DI LAPANGAN, BUKAN DI KANTOR PSSI
Oleh : Moch. Ilyas al-Mushthofa *)

Lagi-lagi PSSI selaku pemegang induk sepak bola Indonesia menorehkan luka nyeri nan mendalam bagi semua insan sepak bola nasional. Bukan hanya di kalangan seporter saja, bahkan sangat mungkin semua masyarakat Indonesia merasakan luka tersebut karena sepak bola pada konteksnya sering mewakili harga diri sebuah bangsa.
Ya, Rabu malam (29/2), merupakan momen yang bisa jadi tidak akan pernah terlupakan bagi semua insan sepak bola Indonesia. Harga diri sepak bola nasional kembali tercabik di pentas internasional lewat kekalahan telak, memalukan serta terbesar sepanjang sejarah sepak bola kita. Tidak tanggung-tanggung, gawang Indonesia, yang bermaterikan hanya dari pemain IPL (Kompetisi yang dianggap sah oleh PSSI) digelontor 10 goal tanpa balas oleh Bahrain, Negara yang sebenarnya secara keseluruhan kekuatan sepak bolanya berimbang dengan kita.
Memalukan, mungkin kata yang banyak digunakan oleh berbagai media sebagai judul menyikapi kekalahan besar tersebut memang benar adanya dan sangat tepat. Bayangkan, sebelumnya kekalahan terbesar yang pernah kita alami berlangsung 38 tahun silam atau tepatnya pada tahun 1974, ketika itu Indonesia tunduk oleh Denmark 9-0 pada pertandingan persahabatan di Kopenhagen. Namun harus diingat, Denmark merupakan salah satu kiblat sepak bola eropa, bahkan dunia dan tentu berbeda kelasnya dengan Bahrain.
Sebenarnya bukan kekalahan itu yang menjadi sumber kemarahan dan kekecewaan mayoritas bangsa Indonesia, melainkan PSSI lah yang secara sengaja dan dalam keadaan sadar, mengatas-namakan statuta FIFA mencekal pemain-pemain terbaik kita yang kebanyakan bermain di ISL, kompetisi yang sudah banyak “makan garam” dan jauh lebih “tua” dari IPL, sehingga mereka tidak diperkenankan menggunakan seragam merah putih. Bahkan mantan pelatih timnas U23 Rahmad Darmawan pun menyebut tim yang kalah 10-0 dari Bahrain bukan timnas Indonesia, melainkan IPL selection. Apa hasilnya, penonton kecewa, dan saat Indonesia tertinggal 9-0 dari Bahrain, ada seorang kawan yang menyaksikan laga lewat layar kaca berujar melalui SMS kepada penulis, “Andai Televisi harganya cuma puluhan ribu, sudah kubanting hingga tak berbentuk, karena kecewa,”. Ada juga kawan lain yang mengirim SMS, “Kayak skor futsal saja,”. Mungkin saja itu reaksi kekecewaan wajar dari seorang yang memendam cinta akan sepak bola Indonesia.
Sesungghnya jika kita telaah secara mendalam, semakin terpuruknya permainan dan prestasi timnas saat ini adalah ulah PSSI itu sendiri yang lebih suka menyibukan diri sebagai pengurus dengan citra lebih bersih dan sehat (setidaknya dari era Nurdin Halid cs), dari pada mengurus sepak bola secara sportif dengan orientasi utama menghibur, bukan malah mengecewakan masyarakat. Pengurus PSSI sekarang seolah sudah tidak lagi mau mendengar erangan dan jeritan pecinta bola nasional yang sepertinya mulai kehilangan suara untuk menegur, memohon atau berbisik lirih demi kemajuan sepak bola Indonesia. Bahkan, mungkin karena “risi” sekaligus “geli” presiden SBY pun angkat bicara dan meminta pengurus PSSI untuk tidak ribut terus serta melakukan interopeksi diri. Lagi-lagi, inilah bukti, penonton kecewa.
Dalam hal ini penulis sangat bersepakat dengan apa yang diungkapkan oleh menteri BUMN Dahlan Iskan sebelum laga Bahrain melawan Indonesia,  bahwa akar kisruh di tubuh PSSI adalah persaingan dua tokoh, Nirwan Bakrei dan Arifin Panigoro. Banyak kalangan yang sudah mafhum bahwasanya Nirwan merupakan sosok di balik Nurdin Halid saat menjabat ketua umum PSSI, sedangkan Arifin Panigoro adalah orang yang berada di belakang Djohar Arifin, saat ini. Memang tepat rasanya yang diusulkan oleh pak menteri bahwa kedua tokoh tersebut seharusnya bertarung secara ksatria dengan masing-masing membentuk atau mendanai klub sepak bola dan bertarung di lapangan bukan di ranah kebijakan PSSI.
Tentu saja jika persaingan tersebut dialihkan pada lapangan hijau situasinya akan berbalik menjadi positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Kita lihat di Inggris ada duo Manchester, United dan City, Spanyol dengan Real Madrid dan Barcelona serta Italia dengan Juventus dan AC Milan. Hasilnya, persaingan serta perseteruan di dalam maupun luar lapangan antara klub-klub tersebut ternyata sangat andil dalam membantu membentuk tim nasional yang tangguh pada negara-negara itu.
Bagaimana dengan Indonesia, saat ini ditengarahi Nirwan merupakan penyokong dana bagi Pelita Jaya, klub bertabur bintang anggota ISL, dan semestinya Arifin panigoro meniru langkah itu agar domain perseteruan tidak lagi salah tempat seperti sekarang. Sehingga sepak bola tidak akan dikorbankan akibat perseteruan atau pertarungan pihak-pihak tertentu yang berkepentingan, karena sesungguhnya sepak bola itu di lapangan, bukan di kantor PSSI.

*) Penulis adalah wartawan Suara Rembang, bisa dijumpai di lee_chuath@yahoo.co.id.

Jumat, 17 Februari 2012

CATUR DAPAT HADIAH “JETUTAN” DAN “GREKUKAN”



CATUR DAPAT HADIAH “JETUTAN” DAN “GREKUKAN”

Rembang- Apa yang menjadi kebiasaan beberapa pemuda pada salah satu warung kopi di Kecamatan Sedan ini sepertinya cukup unik dan lucu. Karena mayoritas pemuda setempat penghobi catur, maka mereka sepakat setiap permainan catur yang digelar, pemenangnya akan mendapatkan “jetutan” (menarik jari tangan dan kaki sampai otot bunyi) dan “grekukan” (menekan punggung sampai otot berbunyi) dari lawannya.
Menurut salah seorang pemuda setempat, M. Ilham (30), Kamis (16/2), hal itu ia lakukan bersama kebanyakan rekannya untuk menambah gengsi permainan. Ilham menjelaskan, permainan catur yang ia lakukan bersama rekan-rekannya biasanya berlangsung beberapa kali sampai benar-benar merasa capek, dan setiap satu kali permainan, pemenangnya akan mendapatkan “jetutan”, mulai dari jemari tangan hingga “grekukan” pada punggung dari sang lawan.
“Pokoknya setiap menang mendapatkan ‘jetutan’, jika menang pertama 10 jari tangan yang ‘dijetut’ dan andai memenangkan lagi 10 jari kaki. Jika setelah itu menang lagi maka punggung pemenang akan ‘digrekuk’ (ditekan hingga bunyi),” katanya.
Bagaimana setelah “digrekuk” menang lagi, mungkin saja pemenangnya akan bingung dan tidak akan mau menyodorkan kepala kepada lawannya untuk “diplintir” biar bunyi. (Ilyas)

PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI JANGAN DIBEDA-BEDAKAN


“PEREMPUAN MEMANG BEDA, TAPI JANGAN DIBEDA-BEDAKAN”

Rembang- Ungkapan menarik dilontarkan oleh Sri Wahyuni, Kepala Bidang Sosial Dan Budaya (Kabid Sosbud) Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Kabupaten Rembang dalam sambutannya pada acara Musyawarah dan Perencanaan Pembangunan Tingkat Kecamatan (Musrenbangcam) Kecamatan Sedan, Senin (12/2). Wahyuni mengungkapkan bahwa perempuan memang memiliki kodrat berbeda dengan laki-laki, tetapi dalam beberapa hal hendaknya jangan dibeda-bedakan.
“Perempuan memang beda, tapi jangan dibeda-bedakan,” ungkapnya serius.
Sontak saja ungkapan dengan tendensi kesetaraan gender tersebut disambut tepuk tangan meriah oleh sebagian kaum hawa yang juga turut hadir sebagai peserta musrenbangcam. Wahyuni menekankan, sudah saatnya dalam era sekarang perempaun harus dilibatkan pada semua tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan sampai eksekusi kebijakan.
“Perempuan dan laki-laki memang beda, namun peran dalam bidang pembangunan harus sama,” tambahnya lagi.
Wahyuni berpendapat, saat ini bukan jamannya lagi bagi laki-laki bersikap “superior” terhadap perempuan. Menurutnya perbedaan yang terdapat pada diri laki-laki dan perempuan dalam beberapa hal justru akan menjadi kolaborasi menarik dan efektif terkait kerja sama serta berbagi peran, terutama menyangkut bidang pembangunan multi-dimensi.
Secara terpisah, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sedan, Suswantoro, sangat sepakat dengan “kampanye” kesetaraan gender yang dilontarkan oleh Sri Wahyuni. Menurutnya, konsep kesetaraan gender pada praktiknya harus diiringi pula dengan kesamaan berbagai bekal keahlian yang diberikan, baik kepada kaum adam maupun kaum hawa.
“Saya sangat mendukung,” tambahnya singkat. (Ilyas)